Putra Daerah Harus Demo untuk Dapat Pekerjaan? H. Basir Soroti PT Cinta Jaya

oleh -37 Dilihat
#perdayakankami #bukanpermainkan

Berkabar.co – Mandiodo. Konawe Utara. Komitmen pemberdayaan kontraktor lokal di wilayah pertambangan kembali menjadi sorotan. Tokoh masyarakat Kecamatan Molawe dan Kampung Mandiodo, Basir Mandiodo, melontarkan kritik keras terhadap PT Cinta Jaya setelah aksi unjuk rasa yang dilakukan kontraktor lokal bersama warga di kantor perusahaan tersebut, Selasa lalu.

Basir mempertanyakan komitmen perusahaan dalam membuka ruang usaha bagi putra daerah. Ia menilai, masyarakat lokal semestinya mendapatkan kesempatan yang layak untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi pertambangan tanpa harus terlebih dahulu turun ke jalan menyampaikan protes.

“Saya sangat kecewa dengan PT Cinta Jaya. Kenapa kami putra daerah asli Mandiodo harus mengemis dulu baru diberikan pekerjaan? Kenapa kami harus demo dulu baru diberikan ruang?” ujar Basir dengan nada kecewa.

Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar menyangkut peluang pekerjaan, melainkan juga menyangkut akses kontraktor lokal terhadap kesempatan usaha yang tumbuh dari aktivitas pertambangan di wilayah mereka sendiri.

Basir menegaskan, perusahaan yang beroperasi di daerah semestinya memberikan perhatian serius terhadap keterlibatan masyarakat setempat. Ia pun meminta manajemen PT Cinta Jaya menjelaskan secara terbuka bagaimana program pemberdayaan masyarakat dan kontraktor lokal dijalankan.

BACA JUGA:  EMPAT PEKERJA TEWAS TERTIMBUN LONGSOR DI PT KDI, SAR SULTRA DESAK PENGHENTIAN SEMENTARA AKTIVITAS DAN INVESTIGASI MENYELURUH

Pertanyakan Kontraktor Lokal yang Disebut Telah Diberdayakan

Sorotan Basir mengarah pada pelaksanaan kebijakan pemberdayaan masyarakat dan kontraktor lokal di sektor pertambangan. Ia merujuk pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 365 Tahun 2023 yang menurutnya perlu menjadi perhatian dalam pelaksanaan program pemberdayaan di wilayah operasional perusahaan.

Basir juga menyinggung Pasal 4 ayat (1) dan (2) serta Pasal 7 yang disebutnya relevan untuk dipertanyakan dalam konteks pelaksanaan pemberdayaan tersebut.

Ia meminta agar komitmen perusahaan tidak berhenti pada pernyataan, tetapi dibuktikan melalui program yang jelas, terbuka, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

“Kalau hari ini PT Cinta Jaya mengatakan kami sudah mematuhi dan sudah memberdayakan kontraktor lokal, saya ingin bertanya: kontraktor lokal yang mana? Lokal yang mana? Lokal yang mana?” tegasnya.

Pernyataan itu menjadi pertanyaan terbuka bagi manajemen perusahaan mengenai siapa saja kontraktor lokal yang telah memperoleh kesempatan, jenis pekerjaan yang diberikan, serta sejauh mana pelibatan pelaku usaha dari masyarakat setempat dalam kegiatan pertambangan.

BACA JUGA:  Bukan Sekadar Penghargaan, PT MLP dan PT KES Buktikan Kepedulian Kemanusiaan Lewat ESDM Siaga Bencana 2026

Desak Transparansi dan Kesempatan yang Adil

Basir meminta PT Cinta Jaya membuka informasi mengenai bentuk pemberdayaan yang telah dilaksanakan, termasuk mekanisme penunjukan kontraktor, persyaratan kerja sama, dan peluang yang tersedia bagi pengusaha lokal.

Menurutnya, keterbukaan diperlukan agar masyarakat dapat mengetahui apakah program pemberdayaan benar-benar berjalan dan memberikan ruang bagi pelaku usaha di sekitar wilayah pertambangan.

Ia berharap perusahaan tidak menunggu munculnya aksi protes untuk merespons aspirasi masyarakat. Dialog yang terbuka dan mekanisme kemitraan yang jelas dinilai penting untuk mencegah persoalan serupa terus berulang.

Sorotan ini sekaligus menjadi momentum bagi manajemen PT Cinta Jaya untuk menjelaskan komitmen dan realisasi pemberdayaan kontraktor lokal secara terukur.

Hingga berita ini disusun, tanggapan resmi PT Cinta Jaya atas kritik Basir Mandiodo belum tercantum dalam informasi yang diterima redaksi. Konfirmasi dan penjelasan perusahaan diperlukan agar persoalan ini dapat diberitakan secara berimbang, sekaligus memberikan ruang bagi semua pihak untuk menyampaikan fakta dan klarifikasi.

 

Laporan : Redaksi