Lindungi Produksi Padi dari Kekeringan, Distanak Konut Tempuh Solusi Jangka Pendek dan Panjang

oleh -45 Dilihat
Ketgam : Distanak Konut bergerak cepat dengan menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari solusi jangka pendek hingga program penguatan sistem pengairan dalam jangka panjang.

Berkabar.co – Konawe Utara. Ancaman kekeringan yang berpotensi mengganggu ketersediaan air di lahan persawahan menjadi perhatian serius Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Konawe Utara.

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap tanaman padi dan menjaga produktivitas petani, Distanak Konut bergerak cepat dengan menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari solusi jangka pendek hingga program penguatan sistem pengairan dalam jangka panjang.

Langkah tersebut dilakukan agar persoalan kekurangan air di lahan persawahan dapat diantisipasi lebih dini dan tidak berkembang menjadi ancaman terhadap produksi pangan daerah.

Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sapras) Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Konawe Utara, Musharjo, S.Pt., S.Si., M.M., menjelaskan bahwa pihak dinas telah menyiapkan langkah cepat untuk mengantisipasi persoalan kekeringan yang dihadapi petani.

Menurut Musharjo, penanganan dilakukan melalui dua pendekatan, yakni solusi jangka pendek dan solusi jangka panjang.

“Untuk jangka pendek, kita memberikan solusi berupa bantuan pompa air atau Alkon 3 inci untuk tiap kecamatan melalui penyuluh pertanian,” jelas Musharjo.

Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu petani mendapatkan pasokan air untuk lahan persawahan yang mengalami keterbatasan air, terutama di tengah kondisi musim kering.

Penyaluran melalui penyuluh pertanian juga diharapkan membuat pemanfaatan bantuan lebih terkoordinasi. Penyuluh dapat membantu memetakan kondisi lahan dan kebutuhan kelompok tani di wilayah masing-masing.

Pompa Air Jadi Langkah Cepat

Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam keberlangsungan tanaman padi. Ketika sumber air mulai berkurang, tanaman berisiko mengalami gangguan pertumbuhan yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap produktivitas dan hasil panen.

Karena itu, bantuan Alkon 3 inci diposisikan sebagai salah satu langkah cepat untuk membantu petani menghadapi kondisi tersebut.

Namun, Distanak Konut tidak ingin penanganan kekeringan hanya berhenti pada bantuan pompa air.

BACA JUGA:  Sekda Konawe Utara Di Utus Bupati dalam Rangka Menghadiri Pemilihan Pengurus Apkasi 2025–2030 di Manado

Musharjo menjelaskan, untuk solusi jangka panjang, pemerintah juga mengarahkan program pada pembangunan Irigasi Perpompaan (Irpom) serta Air Tanah Dalam (ATD) atau sumur pompa.

Program tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem pengairan lahan pertanian sehingga petani memiliki alternatif sumber air ketika menghadapi musim kering.

Distanak Usulkan Jaringan Irigasi Air Tanah

Selain langkah tersebut, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Konawe Utara, Ir. H. Sadeli, M.Si., menyampaikan bahwa pihaknya juga tengah mendorong solusi pengairan yang lebih permanen.

Sadeli mengatakan, Distanak Konut saat ini sementara mengusulkan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS).

Upaya tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah daerah untuk memperkuat infrastruktur pengairan pertanian sekaligus mengantisipasi persoalan kekeringan yang dapat kembali terjadi pada musim-musim mendatang.

Menurutnya, kebutuhan pengairan lahan pertanian tidak bisa hanya diselesaikan dengan langkah darurat. Diperlukan infrastruktur yang mampu memberikan dukungan terhadap ketersediaan air secara berkelanjutan.

Seluruh Area Persawahan Terus Dipantau

Sadeli juga menegaskan bahwa Distanak Konut akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi seluruh area persawahan yang ada di Kabupaten Konawe Utara.

Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi lahan dan mengidentifikasi lebih awal apabila terdapat wilayah persawahan yang mulai mengalami kekurangan air.

“Kami akan terus memantau seluruh area persawahan di Kabupaten Konawe Utara agar persoalan kekeringan dapat segera diantisipasi dan tidak ada petani yang sawahnya mengalami kekeringan tanpa penanganan,” demikian penjelasan Sadeli.

Pemantauan secara berkala dinilai penting karena kondisi setiap wilayah persawahan tidak sama. Ada lahan yang masih memiliki sumber air, sementara wilayah lainnya membutuhkan dukungan sarana pengairan tambahan.

Karena itu, koordinasi antara Distanak, penyuluh pertanian, pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan kelompok tani menjadi bagian penting dalam penanganan di lapangan.

BACA JUGA:  HUT Konut ke-19, Pemerintah dan Warga Bende Optimis Pembangunan Merata

Dari Bantuan Alkon hingga JIAT

Jika dirangkum, langkah Distanak Konut menghadapi ancaman kekeringan dilakukan melalui beberapa skema.

Pertama, solusi cepat berupa bantuan pompa air atau Alkon 3 inci yang disalurkan melalui penyuluh pertanian di masing-masing kecamatan.

Kedua, solusi jangka panjang melalui pembangunan Irigasi Perpompaan (Irpom) dan Air Tanah Dalam (ATD) atau sumur pompa.

Ketiga, Distanak Konut juga mengusulkan pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) sebagai bagian dari penguatan infrastruktur pengairan pertanian.

Sementara itu, pemantauan terhadap kondisi seluruh lahan persawahan terus dilakukan untuk memastikan persoalan kekurangan air dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.

Menjaga Petani, Menjaga Produksi Pangan

Upaya tersebut bukan semata-mata untuk mengatasi persoalan air di satu musim tanam. Lebih jauh, langkah tersebut berkaitan dengan upaya menjaga keberlangsungan usaha petani sekaligus mempertahankan produksi pangan di Konawe Utara.

Ancaman kekeringan yang tidak ditangani sejak awal dapat meningkatkan risiko tanaman mengalami gangguan pertumbuhan hingga berpotensi memengaruhi hasil panen.

Karena itu, kombinasi antara bantuan sarana secara cepat, pembangunan infrastruktur pengairan dan pemantauan lapangan menjadi strategi penting dalam menghadapi risiko kekeringan.

Distanak Konut berharap seluruh elemen, terutama penyuluh dan kelompok tani, dapat terus berkoordinasi dalam menyampaikan kondisi lahan persawahan.

Dengan langkah tersebut, pemerintah daerah berupaya memastikan petani tidak menghadapi ancaman kekeringan sendirian.

Dari Alkon 3 inci sebagai solusi cepat, Irpom dan sumur ATD sebagai penguatan pengairan, hingga usulan JIAT melalui BWS sebagai langkah strategis, Distanak Konut berupaya membangun sistem perlindungan lahan pertanian yang tidak hanya responsif terhadap kekeringan, tetapi juga berkelanjutan.

 

Laporan : Redaksi