Berkabar.co – Konawe Utara. Krisis listrik yang terus terjadi di Kabupaten Konawe Utara kini tidak lagi sekadar menjadi bahan keluhan. Dalam beberapa waktu terakhir, keresahan warga berkembang menjadi gerakan kolektif yang kian menguat.
Ketidakstabilan tegangan listrik yang kerap terjadi membuat aktivitas masyarakat terganggu. Lampu yang berkedip hingga padam mendadak menjadi pemandangan sehari-hari. Dampak yang lebih serius pun dirasakan warga, yakni kerusakan berbagai peralatan elektronik rumah tangga seperti televisi, kulkas, dan perangkat lainnya.
Kondisi ini memicu kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Di sisi lain, kewajiban pembayaran listrik tetap berjalan normal. Warga tetap harus membayar tagihan tepat waktu, dengan ancaman denda hingga pemutusan layanan jika terlambat.
Situasi tersebut memicu gelombang reaksi dari masyarakat. Keluhan yang sebelumnya tersebar kini mulai terhimpun dalam satu suara. Berbagai elemen, mulai dari pemuda, mahasiswa, hingga tokoh masyarakat, menyuarakan keresahan yang sama.
Ketua Karateker KNPI Konawe Utara, Hendrik, menilai kondisi ini tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan teknis semata.
Menurutnya, listrik merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi secara layak.
“Ini sudah menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Ketika listrik tidak stabil, dampaknya langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari warga,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak menuntut hal yang berlebihan, melainkan hanya menginginkan layanan listrik yang stabil dan setara dengan daerah lain di Sulawesi Tenggara.
Hendrik juga menyebut, gelombang aspirasi yang muncul saat ini merupakan bentuk kepedulian kolektif. Ia memastikan KNPI Konawe Utara akan ikut mengawal agar suara masyarakat dapat didengar dan ditindaklanjuti.
“Atas nama KNPI, kami melihat ini sebagai gerakan bersama. Aspirasi masyarakat harus mendapat perhatian serius,” tegasnya.
Sejumlah organisasi dan elemen masyarakat lainnya turut menyatakan dukungan. Mereka menilai persoalan listrik ini merupakan bagian dari pelayanan publik yang wajib menjadi prioritas pemerintah dan pihak terkait.
Di tengah kondisi tersebut, rencana pembangunan infrastruktur listrik di beberapa wilayah menjadi harapan baru. Namun demikian, masyarakat menilai penanganan kondisi saat ini tidak boleh diabaikan.
“Perencanaan jangka panjang tentu kita apresiasi. Tapi masyarakat juga butuh kepastian hari ini,” tambah Hendrik.
Kini, kesadaran kolektif warga Konawe Utara terus tumbuh. Keluhan yang dulu disampaikan secara individu kini menjelma menjadi gerakan bersama yang menuntut perubahan.
Warga berharap, krisis listrik yang mereka alami segera mendapatkan solusi konkret, sehingga layanan listrik yang stabil, adil, dan merata dapat segera terwujud di Konawe Utara.
Laporan : Redaksi





