Berkabar.co – Sulawesi Tenggara. Tidak semua orang memulai perjalanan menuju kekuasaan dari kehidupan yang serba berkecukupan. Ada yang justru harus berjuang dari bawah, bekerja sambil kuliah, dan mempertahankan mimpi ketika keadaan ekonomi belum berpihak.
Kisah itu pernah dijalani Dr. Ir. H. Ruksamin, S.T., M.Si., IPU., ASEAN Eng.
Jauh sebelum menjadi Bupati Konawe Utara dua periode dan kemudian dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Partai Bulan Bintang (PBB), Ruksamin hanyalah seorang mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar.
Untuk bertahan sekaligus membiayai pendidikan, ia pernah menjual koran dari rumah ke rumah.
Dari kehidupan sederhana itulah perjalanan panjangnya dimulai.
Kini, puluhan tahun kemudian, nama Ruksamin telah melewati berbagai ruang pengabdian—dari dunia pendidikan, profesi keinsinyuran, legislatif, pemerintahan daerah hingga politik nasional.
Namun di balik sederet jabatan tersebut, ada satu titik yang tidak pernah terputus: pendidikan.
Ketika Kuliah Harus Dibayar dengan Keringat
Ruksamin tumbuh dari keluarga sederhana. Orang tuanya menjalani kehidupan sebagai guru dan petani.
Kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah terhadap pendidikan. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Sulawesi Tenggara, ia memilih merantau ke Makassar untuk menempuh pendidikan Teknik Kimia di UMI.
Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 1997.
Tetapi untuk sampai ke titik itu, ia tidak hanya duduk di bangku kuliah.
Ia menjual koran.
Pekerjaan sederhana tersebut dilakukan dari rumah ke rumah untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mempertahankan pendidikannya.
Bagi sebagian orang, menjual koran mungkin hanya pekerjaan biasa.
Namun bagi seorang mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan, setiap lembar koran yang terjual memiliki arti: satu langkah lagi untuk mempertahankan mimpi.
Dari Ruang Kuliah ke Ruang Pengabdian
Pendidikan Teknik Kimia kemudian menjadi fondasi cara berpikir Ruksamin.
Dunia teknik mengajarkan bagaimana melihat persoalan sebagai sebuah sistem. Ada proses, sumber daya, risiko, efisiensi dan hasil yang harus diperhitungkan.
Ketika kemudian masuk ke dunia pemerintahan, perspektif tersebut bertemu dengan persoalan yang jauh lebih kompleks.
Pembangunan tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur atau anggaran. Di dalamnya ada masyarakat, pendidikan, kesehatan, lingkungan, investasi, sumber daya alam serta pelayanan publik.
Ruksamin kemudian memperluas pendidikan akademiknya melalui studi pascasarjana di Universitas Halu Oleo dan menyelesaikan pendidikan doktoral bidang Administrasi Publik di Universitas Diponegoro pada 2015.
Dua disiplin tersebut—keinsinyuran dan administrasi publik—menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya.
Sebelum Berpolitik, Ia Pernah Menjadi Guru
Sebelum masuk ke dunia politik, Ruksamin juga pernah menjadi guru di SMA Negeri Wawotobi pada 2000–2001.
Pengalaman tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan pengabdiannya.
Dunia pendidikan mempertemukannya langsung dengan generasi muda. Ada proses mengajar, membimbing, mendengar dan memahami karakter manusia yang berbeda-beda.
Pengalaman itu kemudian membawanya menuju ruang pengabdian yang lebih luas.
Dari DPRD hingga Dua Periode Memimpin Konawe Utara
Pada 2004, Ruksamin memasuki dunia legislatif sebagai anggota DPRD Kabupaten Konawe.
Karier politiknya kemudian berkembang. Ia dipercaya menjadi Ketua DPRD Konawe Utara periode 2007–2009 dan Wakil Ketua I DPRD Konawe Utara periode 2009–2011.
Setelah itu, ia masuk ke pemerintahan sebagai Wakil Bupati Konawe Utara periode 2011–2016.
Perjalanan tersebut kemudian mencapai fase baru ketika masyarakat mempercayakannya sebagai Bupati Konawe Utara.
Ruksamin memimpin Konawe Utara selama dua periode, 2016–2021 dan 2021–2025.
Dari seorang mahasiswa yang pernah menjual koran untuk bertahan hidup, ia akhirnya berada di kursi tertinggi pemerintahan daerah.
Mengelola Daerah dengan Potensi Besar
Konawe Utara merupakan salah satu daerah di Sulawesi Tenggara yang memiliki kekayaan sumber daya alam, termasuk potensi pertambangan.
Kondisi tersebut memberikan peluang sekaligus tantangan besar bagi pemerintah daerah.
Bagaimana sumber daya alam dikelola? Bagaimana manfaatnya dirasakan masyarakat? Bagaimana pembangunan berjalan? Bagaimana lingkungan tetap diperhatikan? Dan bagaimana potensi daerah dapat menciptakan nilai tambah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari tantangan kepemimpinan daerah.
Di sinilah pengalaman sebagai seorang insinyur dan pengalaman di pemerintahan memiliki ruang pertemuan.
Dalam dunia teknik, setiap keputusan memiliki konsekuensi.
Begitu pula dalam pemerintahan.
Setiap kebijakan memiliki dampak terhadap masyarakat.
Dua Puluh Tahun Kemudian, Kembali Menjadi Mahasiswa
Salah satu bagian menarik dari perjalanan Ruksamin adalah ketika ia kembali ke UMI.
Sekitar dua dekade setelah menyelesaikan pendidikan Teknik Kimia, ia kembali ke kampus almamaternya.
Pada 2017, ketika masih menjabat sebagai Bupati Konawe Utara, Ruksamin mengikuti Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri UMI.
Ia menjadi bagian dari Angkatan I Program Profesi Insinyur UMI.
Pesannya sederhana tetapi kuat :
Jabatan bukan alasan untuk berhenti belajar.
Justru semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk memperkuat kompetensi.
Di kampus yang dahulu menjadi tempatnya memperjuangkan pendidikan, Ruksamin kembali sebagai seorang pejabat publik yang masih ingin belajar.
Dari Gelar Insinyur hingga IPU dan ASEAN Engineer
Perjalanan profesional Ruksamin tidak berhenti pada gelar akademik.
Ia memperoleh jenjang Insinyur Profesional Madya (IPM) pada 2018. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh pengakuan sebagai ASEAN Engineer melalui ASEAN Engineering Register.
Perjalanan profesinya kemudian berkembang hingga mencapai jenjang Insinyur Profesional Utama (IPU).
Dengan demikian, pendidikan keinsinyuran yang dimulai di UMI terus berlanjut menjadi perjalanan profesional.
Ada proses panjang di dalamnya: pendidikan, pengalaman, kompetensi dan tanggung jawab profesi.
Dari Kesulitan Pribadi Menjadi Pelajaran tentang Pendidikan
Kisah menjual koran saat kuliah menjadi salah satu bagian paling manusiawi dalam perjalanan Ruksamin.
Sebab pendidikan baginya bukan sekadar gelar.
Ia pernah merasakan sendiri bagaimana sulitnya mempertahankan pendidikan ketika kemampuan ekonomi terbatas.
Ia pernah berada pada posisi seorang anak muda yang memiliki cita-cita, tetapi harus bekerja agar cita-cita tersebut tetap hidup.
Karena itu, perjalanan hidupnya dapat menjadi pesan bagi generasi muda bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu harus menjadi akhir dari sebuah impian.
Yang diperlukan adalah kemauan untuk terus berusaha, belajar dan memanfaatkan setiap kesempatan.
Dari Kepala Daerah ke Politik Nasional
Setelah menyelesaikan dua periode kepemimpinannya sebagai Bupati Konawe Utara pada 2025, perjalanan Ruksamin memasuki babak baru.
Pada 2026, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal DPP Partai Bulan Bintang.
Ruang pengabdiannya pun berubah.
Jika sebelumnya berhadapan langsung dengan persoalan pembangunan sebuah kabupaten, kini tanggung jawabnya berada dalam ruang organisasi politik berskala nasional.
Ada konsolidasi, kaderisasi, organisasi dan aspirasi masyarakat yang harus dihubungkan dengan agenda politik.
Perjalanan itu memperlihatkan bagaimana ruang pengabdian seseorang dapat terus berubah seiring waktu.
UMI dan Alumni yang Kembali Memberi Inspirasi
Hubungan Ruksamin dengan UMI juga tetap terjaga.
Ia dipercaya menjadi Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Muslim Indonesia Wilayah Sulawesi Tenggara.
Posisi tersebut mempertemukan pengalaman seorang alumni dengan generasi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan.
Universitas bukan hanya tempat seseorang mendapatkan ijazah.
Kampus juga menjadi tempat membangun cara berpikir, jaringan, karakter dan keberanian menghadapi kehidupan setelah pendidikan selesai.
Karena itu, ketika seorang alumni kembali ke almamater dan membagikan pengalaman hidupnya, yang dibawa bukan hanya cerita keberhasilan.
Tetapi juga cerita tentang perjuangan.
Dari Koran, Kampus, hingga Kebijakan
Jika perjalanan Ruksamin ditarik ke belakang, ada satu benang merah yang terlihat jelas.
Pendidikan.
Dari keluarga sederhana, ia menuju UMI.
Dari bangku kuliah, ia menjual koran.
Dari Teknik Kimia, ia masuk dunia profesi.
Dari ruang kelas, ia pernah menjadi guru.
Dari legislatif, ia menuju pemerintahan.
Dari pemerintahan, ia kembali memperkuat profesi keinsinyuran.
Dan dari kepemimpinan daerah, ia kemudian memasuki panggung politik nasional.
Perjalanan tersebut bukan sekadar daftar jabatan.
Di baliknya terdapat proses panjang yang dimulai dari keputusan sederhana: tidak menyerah terhadap pendidikan.
Ketika Kampus Menjadi Titik Awal Sebuah Perjalanan
UMI memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan Ruksamin.
Di kampus itu ia membangun fondasi akademiknya melalui Teknik Kimia.
Dua puluh tahun kemudian, ia kembali untuk memperkuat profesinya melalui Program Profesi Insinyur.
UMI hadir pada dua fase penting kehidupannya : ketika ia sedang membangun fondasi dan ketika ia sedang memperkuat kompetensi.
Di antara kedua fase tersebut terdapat perjalanan panjang yang penuh dinamika.
Ada kesulitan ekonomi.
Ada pekerjaan.
Ada pendidikan.
Ada profesi.
Ada politik.
Ada pemerintahan.
Ada keberhasilan dan tantangan.
Namun perjalanan itu memperlihatkan satu hal: sebuah awal yang sederhana tidak selalu menghasilkan akhir yang sederhana.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Dulu Ruksamin berjalan dari rumah ke rumah membawa koran untuk membantu membiayai kuliahnya.
Hari ini, perjalanan itu telah membawanya melewati berbagai ruang pengabdian.
Dari mahasiswa menjadi sarjana.
Dari sarjana menjadi profesional.
Dari profesional menjadi legislator.
Dari legislator menjadi kepala daerah.
Dari kepala daerah menuju ruang politik nasional.
Namun kisah tersebut bukan semata tentang seberapa tinggi seseorang mencapai sebuah jabatan.
Lebih jauh dari itu, kisah tersebut adalah tentang kesempatan.
Sebab pendidikan terkadang tidak langsung mengubah dunia.
Pendidikan terlebih dahulu mengubah kehidupan seseorang.
Kemudian orang tersebut mendapatkan kesempatan untuk memberikan dampak kepada kehidupan yang lebih luas.
Dari menjual koran untuk membiayai kuliah, hingga dipercaya memegang amanah di tingkat nasional—perjalanan Ruksamin menunjukkan bahwa perjuangan pendidikan dapat menjadi awal dari perjalanan pengabdian yang panjang.
Dari kampus, menjadi dampak.
Sumber : umi.ac.id
Laporan : Redaksi





