Indonesia Emas 2045 atau Rakyat yang Terus Bertahan? Ketika BBM, Gas, Listrik dan Biaya Hidup Menjadi Keluhan Sehari-hari

oleh -10 Dilihat
Ketgam : Mampu kah Negara Kita Menuju Indonesia Emas 2045 ?

Berkabar.co – Indonesia.  Di tengah gegap gempita cita-cita besar membawa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045, ada pertanyaan sederhana yang seharusnya tidak boleh luput dari perhatian: seperti apa masa depan Indonesia jika sebagian rakyat hari ini masih sibuk memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup dari hari ke hari?

Sebuah ilustrasi yang menggambarkan antrean persoalan rakyat kecil—mulai dari sulitnya mendapatkan BBM, gas, hingga listrik padam—menggambarkan keresahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Gambarnya sederhana, tetapi pesannya keras.

BBM langka. Gas menjadi persoalan. Listrik padam.

Di sisi lain, rakyat tetap harus bekerja, membayar kebutuhan rumah tangga, menyekolahkan anak, membeli makanan, membayar transportasi dan memenuhi kebutuhan dasar lainnya.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah pemerintah memiliki program besar.

Pertanyaannya adalah :

Apakah pembangunan yang sedang dikejar benar-benar terasa sampai ke dapur rakyat?

Indonesia Emas Tidak Boleh Hanya Menjadi Slogan

Pemerintah telah menempatkan RPJPN 2025–2045 sebagai peta jalan menuju Indonesia Emas 2045. Visi tersebut diarahkan untuk membawa Indonesia menjadi negara yang berdaulat, maju dan berkelanjutan, dengan pembangunan yang mencakup transformasi sosial, ekonomi, tata kelola, pemerataan wilayah, infrastruktur serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Cita-cita tersebut tentu patut diapresiasi.

Namun, perjalanan menuju 2045 tidak hanya ditentukan oleh gedung-gedung tinggi, kawasan industri, jalan tol, pertumbuhan ekonomi atau proyek-proyek strategis.

Ukuran paling sederhana keberhasilan pembangunan adalah apakah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

Apakah pendapatan mereka meningkat?

Apakah pekerjaan semakin mudah diperoleh?

Apakah kebutuhan pokok semakin terjangkau?

Apakah energi tersedia dengan baik?

Apakah anak-anak rakyat kecil mendapatkan pendidikan berkualitas?

Dan yang paling mendasar:

Apakah masyarakat dapat menjalani hidup dengan rasa aman dan memiliki kepastian mengenai hari esok?

Angka Kemiskinan Menurun, tetapi Jutaan Warga Masih Berjuang

Data resmi BPS menunjukkan kondisi Indonesia memang mengalami perbaikan pada indikator kemiskinan. Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin turun menjadi 8,07 persen, dari 8,15 persen pada September 2025. Namun, secara jumlah masih terdapat 22,93 juta orang yang berada dalam kategori miskin.

BACA JUGA:  Menjelang Idul Adha 1446 H / 2025 M, Kades Tapunopaka : Mengajak warganya untuk meningkatkan solidaritas dengan semangat pengorbanan

Badan Pusat Statistik Indonesia

Artinya, ketika pemerintah berbicara mengenai keberhasilan pembangunan, angka penurunan kemiskinan memang penting.

Tetapi angka tersebut juga membawa pesan lain:

Masih ada puluhan juta manusia yang kehidupannya harus menjadi perhatian.

Sementara di Sulawesi Tenggara, BPS mencatat persentase penduduk miskin pada Maret 2026 sebesar 10,02 persen, dengan jumlah sekitar 293,47 ribu orang.

BPS Sulawesi Tenggara

Mereka bukan sekadar angka statistik.

Mereka adalah petani, nelayan, buruh, pedagang kecil, pekerja informal, keluarga muda dan masyarakat yang setiap hari berjuang agar dapurnya tetap mengepul.

Harga Stabil di Atas Kertas Belum Tentu Ringan di Kantong

Inflasi nasional pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan.

Badan Pusat Statistik Indonesia

Angka tersebut menjadi indikator penting bagi perekonomian.

Namun bagi masyarakat berpenghasilan rendah, persoalan biaya hidup sering kali dirasakan secara berbeda.

Ketika harga makanan naik, ongkos transportasi bertambah, kebutuhan pendidikan meningkat dan kebutuhan rumah tangga terus berjalan, masyarakat tidak selalu merasakan dampaknya dalam bentuk angka inflasi.

Mereka merasakannya ketika uang Rp100 ribu yang biasanya cukup untuk beberapa kebutuhan kini terasa semakin cepat habis.

Di sinilah pembangunan diuji.

Rakyat Tidak Menuntut Kemewahan

Rakyat kecil pada dasarnya tidak meminta sesuatu yang berlebihan.

Mereka ingin BBM tersedia ketika dibutuhkan.

Mereka ingin gas dapat diperoleh dengan harga yang wajar.

Mereka ingin listrik menyala dengan andal.

Mereka ingin mendapatkan pekerjaan yang layak.

Mereka ingin harga kebutuhan pokok tidak membuat penghasilan habis sebelum akhir bulan.

Dan mereka ingin negara hadir bukan hanya ketika ada seremoni, tetapi juga ketika kehidupan mereka sedang sulit.

BACA JUGA:  Mulung Fest 2024 Festival Airdrop Akbar Terbesar dan Perdana Digelar di Jakarta

Lalu, Mampukah Indonesia Emas 2045 Terwujud?

Jawabannya tentu bukan sekadar “mampu” atau “tidak mampu.”

Indonesia memiliki waktu dan kesempatan untuk mewujudkannya.

Namun, keberhasilan Indonesia Emas 2045 akan sangat bergantung pada bagaimana negara menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat hari ini.

Sebab Indonesia Emas tidak akan memiliki makna apabila pertumbuhan ekonomi hanya terasa di sebagian kelompok, sementara masyarakat bawah terus dihantui persoalan kebutuhan dasar.

Negara maju bukan hanya negara yang memiliki gedung pencakar langit dan kawasan industri modern.

Negara maju adalah negara yang rakyatnya mampu hidup layak, memperoleh pekerjaan, mendapatkan pendidikan dan kesehatan yang baik, menikmati pelayanan publik yang berkualitas, serta memiliki kepastian untuk menatap masa depan.

Jangan Sampai 2045 Menjadi Mimpi Besar yang Dibangun di Atas Keresahan Rakyat

Cita-cita Indonesia Emas 2045 harus dimulai dari persoalan hari ini.

Jangan sampai negara terlalu sibuk membicarakan Indonesia tahun 2045, sementara sebagian rakyat masih bertanya:

Besok saya makan apa?”

Jangan sampai kita terlalu sibuk menghitung pertumbuhan ekonomi, sementara keluarga miskin masih harus memilih antara membeli kebutuhan dapur, membayar listrik, membeli gas atau memenuhi kebutuhan sekolah anak.

Dan jangan sampai pembangunan hanya terlihat megah dalam laporan, tetapi tidak terasa dalam kehidupan masyarakat.

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar target pemerintah. Ia adalah janji masa depan kepada seluruh rakyat Indonesia.

Karena itu, pertanyaan terbesar bukan hanya:

“Mampukah Indonesia menjadi negara maju pada 2045?”

Tetapi jauh lebih mendasar:

“Mampukah negara memastikan rakyat kecil hari ini memiliki kehidupan yang layak sehingga mereka benar-benar bisa menjadi bagian dari Indonesia Emas 2045?”

Sebab pada akhirnya, **Indonesia Emas tidak boleh hanya menjadi emas bagi negara, tetapi harus menjadi masa depan yang benar-benar dirasakan oleh rakyatnya.**

 

Laporan : Redaksi