Berkabar.co – Konawe Utara. Kritik keras terhadap tata kelola kemitraan di wilayah Wilalang kembali mengemuka. Kali ini disampaikan langsung oleh Uksal Tepamba, Ketua Lembaga Pemerhati Aspirasi Masyarakat Konawe Utara (LEPERASI-KONUT), Anggota PB HMI, Tokoh Pemuda Konawe Utara, sekaligus Koordinator KPD-WILALANG, yang secara tegas mengarahkan peringatannya kepada PT Stargate.
Uksal menegaskan bahwa Konawe Utara bukan milik satu kelompok tertentu yang mengatasnamakan “lokal”, lalu mencoba menguasai dan memonopoli kegiatan strategis seperti PBM dan TKBM, sembari mengabaikan putra daerah yang terdampak langsung.
“Konawe Utara ini bukan milik satu kelompok. Tidak boleh ada kelompok yang merasa paling lokal lalu menguasai PBM dan TKBM seolah itu warisan pribadi. Itu bukan pemberdayaan, itu monopoli,” tegas Uksal.
Pernyataan keras ini disampaikan sebagai warning terbuka terhadap oknum maupun kelompok yang diduga mencoba menguasai ruang-ruang ekonomi di PT Stargate, dengan cara menutup akses dan peran putra daerah Wilalang—Wiwirano, Landawe, dan Langgikima.
Menurut Uksal, KPD-WILALANG lahir justru karena praktik-praktik pengabaian tersebut. Gejolak sosial yang muncul bukan tanpa sebab, melainkan reaksi alamiah masyarakat lokal yang merasa disingkirkan di wilayahnya sendiri.
“Kalau putra daerah Wilalang disingkirkan, lalu pihak luar masuk menguasai PBM dan TKBM, maka jangan salahkan rakyat jika bersuara keras. Itu bukan provokasi, itu perlawanan atas ketidakadilan,” ujarnya tajam.
Sebagai aktivis yang ditempa dalam tradisi kritis Hijau Hitam (HMI), Uksal menilai bahwa praktik monopoli berkedok lokal adalah penyimpangan moral pembangunan dan bertentangan dengan prinsip keadilan sosial.
“HMI tidak pernah mengajarkan kami tunduk pada elite kecil yang menghisap ruang hidup rakyat. Kami diajarkan melawan ketidakadilan, siapa pun pelakunya,” kata Uksal.
Dalam kapasitasnya sebagai Koordinator KPD-WILALANG, ia menegaskan bahwa KPD-WILALANG adalah representasi sah putra daerah yang terdampak langsung, bukan kelompok titipan, bukan kepanjangan tangan kepentingan luar, dan bukan alat monopoli.
Karena itu, Uksal menyampaikan peringatan keras kepada PT Stargate agar tidak mengakomodir pihak, kelompok, atau koperasi mana pun dalam urusan PBM, TKBM, dan kegiatan penunjang lainnya sebelum dan tanpa mengutamakan KPD-WILALANG.
“Biarkan KPD-WILALANG mandiri di wilayahnya sendiri. Jangan ada intervensi dari luar. Ini bukan permintaan, ini tuntutan keadilan,” tegasnya.
Ia menambahkan, perusahaan yang beroperasi di Wilalang wajib membaca peta sosial dengan benar. Mengabaikan KPD-WILALANG berarti mengabaikan masyarakat terdampak langsung, sebuah kesalahan serius dalam pengelolaan investasi jangka panjang.
“Kalau perusahaan ingin aman, libatkan rakyat. Kalau ingin konflik, silakan abaikan putra daerah. Sejarah selalu membuktikan itu,” ujar Uksal dengan nada pedas.
Atas nama LEPERASI-KONUT, Uksal memastikan bahwa lembaganya tidak akan diam jika praktik monopoli dan pengabaian terhadap putra daerah terus dibiarkan. Kontrol sosial akan terus dilakukan secara terbuka, konstitusional, dan berkelanjutan.
Menutup pernyataannya, Uksal menyampaikan ultimatum moral yang lugas dan membakar :
“Wilalang bukan tanah kosong. KPD-WILALANG adalah tuan rumah. PT Stargate dan siapa pun yang bermain di wilayah ini wajib menghormati itu. Jika tidak, resistensi rakyat adalah konsekuensi yang tak terhindarkan.”
Laporan : Redaksi





