Program MBG Dihantam Krisis Kepercayaan, Mayoritas Publik Nilai Tak Tepat Sasaran

oleh -21 Dilihat

Berkabar.co – Sorotan Nasional. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang baru berjalan sekitar 14 bulan kini menghadapi krisis kepercayaan publik. Hasil riset terbaru dari Policy Research Center mengungkap mayoritas masyarakat menilai program tersebut belum memberikan manfaat signifikan bagi siswa sebagai sasaran utama.

Dalam survei yang melibatkan ribuan responden, hanya 6,5 persen yang menyatakan manfaat program benar-benar dirasakan oleh anak-anak di sekolah. Sementara itu, sebagian besar responden justru menilai aliran dana program lebih banyak dinikmati oleh elit politik dan pihak pengelola dapur.

BACA JUGA:  5 Kesalahan Umum dalam Memilih Gagang Pintu Rumah Minimalis

Kondisi ini diperparah dengan temuan di lapangan terkait kualitas makanan yang dinilai menurun. Sebanyak 76 persen responden mengaku porsi makanan yang diterima siswa tidak sesuai dengan standar anggaran yang berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi.

Muncul pula dugaan adanya praktik pemotongan anggaran secara sistematis yang berdampak pada kualitas gizi makanan. Program yang sejatinya bertujuan meningkatkan asupan nutrisi anak justru dinilai berpotensi menjadi celah penyimpangan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Alih-alih memperbaiki gizi generasi bangsa, program ini justru dipandang sebagai proyek yang rawan disalahgunakan,” demikian salah satu temuan dalam riset tersebut.

BACA JUGA:  India Jadi Pilihan Utama Pariwisata Medis Terjangkau Berkat Artemis Hospital

Melihat berbagai persoalan tersebut, sebanyak 80 persen responden menyatakan tidak setuju jika program MBG dilanjutkan tanpa evaluasi menyeluruh. Ketimpangan antara besarnya anggaran yang digelontorkan pemerintah dengan kondisi riil yang diterima siswa menjadi sorotan utama publik.

Para responden mendesak pemerintah untuk segera melakukan pembenahan dari sisi transparansi dan akuntabilitas agar program ini tidak berujung pada pemborosan anggaran tanpa dampak nyata bagi kesehatan anak-anak Indonesia.

 

Laporan : Redaksi